
Lanjut cerita gimana saya bisa dapet kerjaan remote tanpa orang dalam. Kali ini sangat menarik karena kerjaan ini sangat berpengaruh ke kehidupan saya.
Setelah bekerja selama kurang lebih 2 tahun di company Malaysia yang sebelumnya, saya ingin coba hal baru dan tentunya pengen naik gaji juga daripada yang sebelumnya. Karena tidak ada tuntutan untuk harus dapet kerja yang baru, atau kontrak dari kantor sebelumnya akan habis, jadinya nyari kerjanya juga sangat nyantai. Kalau ada lowker ya digas, kalau ga ada yaudah gapapa.
Salah satu kunci untuk dapet kerjaan baru adalah, jangan resign dulu sebelum dapat yang baru ya ges. Kalau lu resign sebelum ada kepastian kerjaan yang baru, ntar kelimpungan ga ada duit buat menuhin kebutuhan bulanan.
Dalam mencari kerjaan baru, saya ga pernah pakai cara yang dilakukan orang orang, kayak misalnya cari lowker di salah satu platform kemudian apply. Yang beginian sangat jarang bisa dapet kerja karena semua orang melakukan hal yang sama. Yang saya lakukan waktu itu, ada muncul notifikasi lowker di Discord. Spek kerjaannya sangat cocok dengan skill saya waktu itu, Vue (Nuxt) dan expressjs. Yaudah aku gas apply
Sesuai dugaan, jarang ada yang liat lowker itu, jadinya saya di notice oleh recruiter dan diinterview. Setelah beberapa step interview, syukur alhamdulillah akhirnya lolos juga dan dapet kerjaan baru. Cari kerjaan memang sebenernya bergantung dengan skill Luck haha. Waktu itu company baru ini masih belum early stage banget, belum ada websitenya, arsitektur pun belum ada. Jadi saya join ke company tersebut sebagai founding engineer yang artinya engineer yang direkrut untuk bikin app from scratch, mulai dari arsitektur, pemilihan tech stack, dll. Keberuntungan yang sangat mantep sekali bukan?
Kerjaan waktu itu, menentukan bakal pakai arsitektur seperti apa dan pakai stack apa. Nah waktu itu memutuskan untuk pakai Backend For Frontend as a API Gateway. Kemudian backendnya pakai expressjs, yang menarik disini adalah tech lead waktu itu belum ada pengalaman pakai typescript dan saya meyakinkan dia untuk pakai typescript dan express di backend. Jadilah backend dan BFF API Gatewaynya. BFF pakai express dan GraphQL, frontend pakai Nuxt yang masih versi 2. Karena pada waktu itu kami mengejar MVP dalam 2 bulan, tidak semua hal kita implementasi secara manual di backendnya, karena itu akan memakan banyak waktu dan reinvent the wheel.
Ini pelajaran penting juga, ga semuanya harus perfect diawal. Untuk product management, kami pakai API nya shopify, untuk KYC pakai platform lain, database langsung nembak ke Firestore. Adapun untuk hal lainnya juga sama, kami memakai platform yang udah tersedia, jadi kita hanya manage beberapa hal saja di backendnya. Singkat cerita, dalam 2 bulan udah MVP, yang selanjutnya lanjut improvements.
Tidak lama kemudian, CEO dan beberapa orang petinggi yang lain approach ke YCombinator untuk dapat pendanaan dan lolos! Makin mantep kan tuh. Dari yang awalnya cuma berlima, akhirnya makin lama makin banyak karyawannya. Total sampai sekitar hampir 20 orang pada waktu itu. Benefit yang didapat juga oke punya, tiap bulan dapat free 400 SGD untuk dibelikan kebutuhan development, misalkan boleh untuk dibelikan e-course, mouse, keyboard, dll. Kemudian waktu itu juga lagi ada company retreat di Bali, pertama kali juga ketemu secara langsung dengan engineers dan lainnya.
Namunnnnn, setelah 10 bulan bekerja disana (FYI, ada 3 orang Indonesia yang kerja disana) mereka tidak memperpanjang kontrak semua devs dari Indonesia karena mereka ingin fokus ke devs dari Singapore dan Australia saja. Karena memang company ini melayani store di kedua negara tersebut, jadi most of them adalah orang SG dan AU.
Tidak diperpanjangnya kontrak ini sangat mengejutkan, bahkan saya belum ada persiapan apa yang harus dilakukan kedepannya. Salah saya juga tidak ada persiapan karena memang saya rasa akan bisa memperpanjang kontrak hingga beberapa tahun disana, namun nasib berkata lain. Saya akan lanjutkan cerita ini di post selanjutnya tentang gimana bisa survive setelah kejadian mendadak ini. See y’all